Assalamu"alaikum, wr.wb

Selamat Datang di Blognya Rahmy
Semoga Blog Ini dapat Membantu Teman-teman semua

Minggu, 04 November 2012

Teori Belajar Behavioristik

MAKALAH

TENTANG

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK

DOSEN PEMBIMBING

Drs. H. Noor Rachmad,M.M

Disusun Untuk Memenuhi Tugas

Mata Kuliah Belajar Dan Pembelajaran Semester V

OLEH

clip_image001 Dina Ariyanti 30609 G 4012

clip_image001[1] Erni Yulia 30609 G 4002

clip_image001[2] Marjanah 30609 G 4032

clip_image001[3] Miftahul Janah 30609 G 4019

clip_image001[4] Rahmani 30609 G 4039

clip_image001[5] Rahmi Hidayati 30609 G 4025

clip_image003

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA

STKIP PGRI BANJARMASIN

TAHUN AKADEMIK 2011/2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa kaena atas berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan ringkasan dari “TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK” yang kemudian kami jadikan sebuah makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini merupakan tugas mata kuliah “Belajar dan Pembelajaran”.

Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih atas bantuan dalam penyusunan makalah ini yaitu kepada :

1. Drs. H. Noor Rachmad,M.M sebagai dosen pengajar

  1. Orang Tua yang senantiasa memberikan dukungan kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.
  2. Saudara kami yang senantiasa memberikan pengarahan dalam penyusunan makalah ini.
  3. Rekan-rekan mahasiswa dan semua pihak yang membantu kami,sehingga makalah ini dapat diselesaikan.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah yang kami susun ini masih jauh dari sempurna karena mengingat keterbatasan ilmu pengetahuan yang kami miliki.Walaupun demikian kami telah berusaha menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya.Oleh sebab itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan.

Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat memberikan sumbangan dalam dalam proses belajar mengajar.Amin....

Balangan, 8 Oktober 2011

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman judul ................................................................................................... i

Kata Pengantar.................................................................................................. ii

Daftar Isi .......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................. 1

A.Latar Belakang ............................................................................... 1

B. Rumusan Masalah............................................................................ 1

C. Tujuan Penulisan.............................................................................. 1

D. Metode Penulisan.............................................................................. 2

BAB II TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK............................................ 3

HAKIKAT TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK....................... 3

A. Premis Dasar Teori Belajar Behavioristik..................................... 4

B. Classical Conditioning – Pavlov..................................................... 5

C. Connectionism – Thorndike .......................................................... 6

D. Behaviorism – Watson ................................................................... 7

E. Penerapan Teori Belajar Pavlov, Thorndike Dan Watson

Dalam Proses Pembelajaran.......................................................... 8

PERKEMBANGAN TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK........ 9

A. Teori Systematic Behavior – Clark Hull....................................... 9

B. Teori Contiguity –Edwin R. Guthrie........................................... 10

C. Teori Operant Conditioning –Skinner......................................... 10

D. Penerapan Teori Hull, Guthrie, Dan Skinner Dalam

Proses Pembelajaran ................................................................... 13

BAB III PENUTUP........................................................................................ 16

A. Kesimpulan.................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. PENDAHULUAN

Belajar merupakan proses bagi manusia untuk menguasai berbagai kompetensi, keterampilan dan sikap. Proses belajar dimulai sejak manusia masih bayi sampai sepanjang hayatnya. Kapasitas manusi untuk belajar merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.

Dalam makalah ini kita bersam-sama mengkaji teori belajar behavioristik dari segi sejarahnya, hakikatnya, pandangan teori belajar behavioristik terhadap unsur-unsur belajar, dan model-model pembelajaran yang dapat dirancang berdasarkan prinsip-prinsip teori belajar behavioristik.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa yang dimaksud dengan teori belajar behavioristik?

2. Bagaimana sejarah teori belajar behavioristik ?

3. Bagaimana pandangan teori belajar behavioristik terhadap unsure-unsur belajar?

4. Bagaimana model-model pembelajaran yang dapat dirancang berdasarkan teori belajar behavioristik?

C. TUJUAN PENULISAN

1. Untuk mengetahui pengertian dan dapat memahami tentang teori belajar behavioristik.

2. Untuk mengetahui sejarah teori belajar behavioristik.

3. Untuk mengetahui pandanga teori belajar behavioristik terhadap unsure-unsur belajar.

4. Untuk mengetahui model-model pembelajaran yang dapat dirancang berdasarkan teori belajar behavioristik.

D. METODE PENULISAN

Pada pembuatan makalah ini metode yang digunakan adalah mengambil bagian-bagian penting atau intisari dari bahan yang telah diberikan oleh dosen pembimbing.

BAB II

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK

HAKIKAT TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK

Teori belajar behavioristik lahir sebagai upaya menyempurnakan dua perspektif yang telah berlaku diawal abad 20, yaitu perspektif strukturalis dari Wundt dan psikologis funsionalis dari Dewey.

Perspektif strukturalis percaya akan penelitian dasar yang mempelajari tentang otak manusia. Para strukturalis tidak percaya pada penelitian aplikatif yang menggunakan binatang untuk dirampatkan kepada manusia. Para strukturalis kemudian menggunakan alat “instrospeksi”- laporan diri (self report) tentang proses berpikir sebagai cara untuk mempelajari kerja otak manusia.

Para ahli psikologi fungsionalis menyatakan perlu adanya kajian tentang prilaku selain kajian tentang fungsi proses mental.

John B Watson memulai upayanya untuk mengkaji prilaku terlepas dari proses mental dan lain-lain. Menururtnya semua makhluk hidup menyesuaikan diri terhadp lingkungannya melalui respon. Asumsi inilah yang menjadi landasan dasar dari teori belajar behaviorisme.

Sebelum Watson ada Ivan Pavlov dengan teori Classical Conditioning dan ada Thorndike dengan teorinya Connectionism. Menurut Pavlov bahwa prilaku atau respon dapat dimanipulasi melalui variasi stimulus atau rangsangan. Menurut Thorndike , respon akan diberikan berdasarkan asas coba-coba sebagi reaksi terhadap stimulus yang muncul. Berdasarkan semua itu Watson menyimpulkan bahwa teori prilaku memberikan mekanisme yang menjadi landasan dasar terjadinya berbagai dalam kehidupan.

Teori belajar behavioristik mendefinnisikan bahwa belajar merupakan perubahan prilaku, khususnya perubahan kapasitas siswa untuk berperilaku (yang baru) sebagai hasil belajar. Bukan hasil dari proses pematangan (pendewasaan) semata. Menurut teori belajar behavioristik , perubahan perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang akan memberikan beragam pengalaman kepada seseorang. Lingkungan merupakan stimulus yang dapat mempengeruhi atau mengubah kapasitas untuk merespon.

A. PREMIS DASAR TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK

Menurut teori balajar behavioristik, belajar merupakan perubahan tingkah laku hasil interaksi antara stimulus dan respon , yaitu proses manusia untuk memberikan respon tertentu berdasarkan stimulus yang datang dari luar.

Hubungan Langsung

S R

( koneksi )

Stimulus yang dapat dilihat Penyebab Respon yang dapat

dilihat

Proses S-R ini terdiri dari beberapa unsure, yaitu dorongan atau “drive” stimulus atau rangsangan, respons d an penguatan atau”reinforcement”. Unsur dorrongan diperlihatkan jika seseorang merasakan adanya kebutuhan ini. Dalam upaya memenuhi kebutuhannya tersebut seseorang kemudian berinteraksi dengan lingkungannya yang menyediakan beragam stimulus yang menyebabkan timbulnya respon dari orang tersebut. Respon atau reaksi diberikan tehadap stimulus yang diterima seseorang dengan jalan melakukan sesuatu tindakan yang dapat terlihat. Unsur penguatan akan memberi tanda kepada seseorang dengan kualitas respon yang diberikan, dan mendorong orang tersebut untukmemberikan respon lagi ( respon yang sama atau respon yang berbeda.

Teori belajar behavioristik sangat menekankan pada hasil belajar (outcome), yaitu perubahan tingkah laku yang dapat dilihat dan tidak begitu memperhatikan apa yang terjadi didalam otak manusia karena hal tersebut tidak dapat dilihat.

Namun demikian, tidak kalah penting adalah masukan (input) yang berupa stimulus. Stimulus dapat dimanipulasi untuk memperoleh hasil belajar yang diinginkan. Stimulus meliputi segala sesuatu yang dapat dilihat, didengar,dicium, dirasakan dan diraba oleh seseorang.

Untuk memperoleh hasil belajar yang diinginkan , selain manipulasi stimulus ada factor yang lebih penting yaitu factor penguatan (reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Pengutan dapat ditambahkan ataupun dikurangi untuk memperoleh respon yang semakin kuat.

B. CLASSICAL CONDITIONING – PAVLOV

Percobaan yang dilakukan Ivan Petovich Pavlov ( 1849-1936) merupakan upaya untuk meneliti “conditioned reflexes” atau refleks terkondisi. Dalam percobaan Pavlov seekor anjing akan berliur jika mencium bau daging. Bau daging merupakan stimulus yang tak terkondisi, sementara air liur merupakan respons ( refleks ) yang juga tak terkondisi, kemudian daging ditambah dengan cahaya lampu dan digunakan sebagai stimulus. Setelah pengulangan beberapa kali , diperoleh hasil bahwa anjing sudah akan berliur hanya oleh cahaya lampu, tanpa ada daging ( proses asosiasi). Dengan demikian, cahaya lampu menjadi stimulus yang terkondisi dan liur menjadi respons yang terkondisi.

Teori Pavlov didasarkan pada reaksi system tak terkondisi dalam diri seseorang. Reaksi emosional yang dikontrol oleh system urat syaraf otonom, serta gerak refleks setelah menerima stimulus dari luar.

Ada 3 parameter yang diperkenalkan oleh Pavlov melalui teori Classical Conditioning, yaitu reinforcement, extinction, and spontaneous recovery ( penguatan, penghilangan, pengembalian spontan ). Menurut Pavlov, respons terkondisi yang paling sederhana diperoleh melalui serangkaian penguatan-yaitu tindak lanjut atau penguatan yang terus berulang dari suatu stimulus terkondisi dan diikuti stimulus tak terkondisi dan respon tak tekondisi pada interval waktu tertentu. Dengan demikian, pembentukan respons terkondisi pada umumnya bersifat bertahap ( gradual). Makin banyak stimulus terkondisi diberikan bersama-sama stimulus tak terkondisi, makin mantaplah respon terkondisi yang terbentuk , sampai pada suatu ketika respons terkondisi akan muncul walaupun tanpa ada stimulus tak terkondisi.

Jika penguatan dihentikan dan stimulus terkondisi dimunculkan sendirian tanpa stimulus tak terkondisi, ada kemungkinan frekuensi respons terkondisi akan kemudian menurun dan hilang sama sekali. Proses ini disebut penghilangan (extinction)

Dalam teori Classical Conditioning dikenal juga perampatan stimulus, yaitu kecendrungan untuk memberikan respons terkondisi terhadap stimulus yang serupa dengan stimulus terkondisi, meskipun stimulus tersebut belum pernah diberikan bersama-sama dengan stimulus tak terkondisi. Makin banyak peersamaan stimulus baru dengan stimulus terkondisi yang pertama, makin besar pula perempatan yang dapat terjadi.

Selain perampatan stimulus, teori Classical conditioning juga mengenal konsep diskriminasi stimulus yaitu suatu proses belajar yang memberikan respons terhadap suatu stimulus tertentu atau tidak memberikan respons sama sekali terhadap stimulus yang lain. Hal ini dapat diperoleh dengan jalan memberikan suatu stimulus tak terkondisi yang lain (Morgan, et all, 1986) sahingga seseorang akan melakukan “selective association”- asosiasi terseleksi terhadpa stimulus untuk memunculkan respons

C. CONNECTIONISM – THORNDIKE

Dasar- dasar teori Connectionism dari Edward L. Thorndike ( 1874- 1949) diperoleh juga dari sejumlahpenelitian yang dilakukan terhadp perilaku binatang. Penelitian –penelitian Thorndike pada dasarnya dirancang untuk mengetahui apakah binatang mapu memecahkan masalah dengan menggunakan “reasoning” atau akal dan atau dengan mengkombinasikan beberapa proses berpikir dasar.

Dalam penelitiannya, Thorndike menggunakan beberapa jenis binatang, yaituanak ayam, anjing, ikan kucing dan kera. Percobaan yang dilakukan mengharuskan binatang tersebut keluar dari kandangnya untuk memperoleh makanan. Pada saat dikurung , binatang-binatang tersebut menunjukkan sikap mencakar, mengigit ,menggapai dan bahkan memegang mengais dinding kandang. Cepat atau lambat , setiap binatang akan membuka pintu atau menumpahkan beban untuk dapat keluar kandang dan memperoleh makanan. Pengurungan yang dilakukan berulang-ulang menunjukkan pengurangan frekuensi binatang tersebut untuk melakukan pencakaran , penggigitan,penggapaian, atau pengaisan dinding kandang, dan tentu saja waktu yang dibutuhkan untuk keluar kandang cenderung menjadi lebih singkat.

Dari penelitiannya, Thorndike menyimpulkan respons untuk keluar kandang secara bertahap diasosiasikan dengan suatu situasi yang menampilkan stimulus dalam sutu proses coba-coba (“trial and error”). Respons yang benar secara bertahap diperkuat melalui serangkaian proses coba-coba , sementara reespons yang tidak benar melemah atau menghilang. Teori Connectiosm Thorndike ini juga dikenal dengan nama ”instrumental conditioning” karena respons tertentu akan dipilih sabagai instrument dalam memperoleh “reward” atau hasil yang memuaskan.

Thorndike mengemukakan tiga dalil tentang belajar , yaitu “law of effect” (dalil sebagai akibat) ,law of readiness” (dalil kesiapan). Dalil sebab akibat menyatakan bahwa situasi atau hasil yang menyenangkan diperoleh dari suatu respon akan memperkuat hubungan antara stimulus dan respon atau perilaku yang dimunculkan. Sementara itu, situasi atau hasil yang tidak menyenangkan akan memperlemah hubungan tersebut. Dalil latihan/ pembiasaan menyatakan bahwa latihan akan menyempurnakan respons. Dalil kesiapan menyatakan kondisi-kondisi yang dianggap mendukung dan tidak mendukung pemunculan respons.

Dari sekian banyak penelitiannya, Thorndike lalu menyimpulkan tentang pengaruh proses belajar tertentu terhadap proses belajar berikutnya, yang dikenal dengan proses “transfer of learning” perampatan proses belajar. Thorndike mengemukakan bahwa latihan yang dilakukan dari proses belajar yang terjadi dalam mempelajari suatu konsep akan membantu penguasaan atau proses belajar seseorang terhadp konsep lain yang sejenis atau mirip (associative shifting). Teori Connectionism dari Thorndike ini dikenal sebagai teori belajar yang pertama.

D. BEHAVIORISM – WATSON

Teori Behaviorism atau teori perilaku dari Watson sangat dipengaruhi oleh teori Pavlov maupun Thorndike uyang menjadi landasan utamanya.

Menurut Watson , stimulus dan respon yang menjadi konsep dasar dalam teori perilaku pada umumnya,haruslah berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observable). Watson menyatakan bahwa semua perubahan mental yang terjadi dalam benak siswa adalah penting, namun hal itu tidak dapat menjelaskan apakah perubahan tersebut terjadi karena proses belajar atau proses pematangan semata. Hanya dengan tingkah laku yang dapat diamati (observable) maka perubahan yang bakal terjadi pada seseorang sebagai hasil proses belajar dapat diramalkan.

Interaksi antara stimulus dan respon terhadap berbagai situasi – proses pengkondisian - menurut Watson merupakan proses pengembangan kepribadian seseorang. Pernyataan Watson tersebut dilandaskan kepada penelitiannya terhadap sejumlah bayi. Watson mengemukakan bahwa pada dasarnya bayi yang baru dilahirkan hanya memiliki 3 jenis emosional, yaitu takut, marah dan sayang. Dalam hal interaksi antara stimulus dan respons , Watson menggunakan teori Classical Conditioning Pavlov yang dilengkapi dengan komponen penguatan Thorndike

.

E. PENERAPAN TEORI BELAJAR PAVLOV, THORNDIKE , DAN WATSON DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Teori belajar Classical Conditioning dari Pavlov , Connectionism dari Thorndike, dan Beahaviorism dari Watson merupakan teori-teori dasar perilaku dengan premis dasar yang relative sama.

Konsep stimulus ( Pavlov, Thorndike, Watson ) diterapkan dalam proses pembelajarang dalam bentuk penjelasan, tentang tujuan , ruang lingkup, dan relevansi pembelajaran, dan dalam bentuk penyajian materi. Sementara itu konsep respons ( Pavlov, Thorndike, Watson) diterapakan dalam bentuk jawaban siswa terhadap soal-soal tes atau ujian setelah materi disajikan atau hasil karya siswa setelah prosedur pembuatan hasil karya disampaikan. Proses pengkondisian atau interaksi antara stimulus dan respon ( Pavlov) diterapkan dalam bentuk pemunculan stimulus yang bervariasi , baik stimulus tunggal, ganda, maupun kombinasi stimulus ( perampatan atau diskriminasi stimulus – Pavlov ). Hasil peneltian didunia pembelajaran menyatakan bahwa penggunaan media yang beragam ( dua atau lebih) secara variatif menghasilkan dampak positif yang lebih tinggi dalam proses pembelajaran daripada media tunggal secara terus-menerus ( Chilsholm & Ely, 1976). Selain itu proses pengkondisian juga melibatkan konsep penguatan (Thorndike) yang diterapkan dalam bentuk pujian atau hukuman guru terhadap siswa serta penilaian guru terhadap hasil kerja siswa.

Dalam proses pengkondisian , berlaku tentang tiga teori belajar, yaitu dalil sebab akibat, dalil latihan/pembiasaan, dan dalil kesiapan (Thorndike). Dengan demikian, dalam setiap proses pembelajaran, latihan menjadi komponen utama yang harus dirancang dan dilaksanakan. Penyajian materi saja (dengan contoh, gambar, media, melalui beragam metode) sama sekali tidak menjamin pemunculan respons yang diharapkan jika tidak ada komponen latihannya dalam suatu proses pembelajaran. Proses pembelajaran juga akan berjalan dengan baik jika ada dorongan atau kebutuhan yang jelas dari guru maupun siswa. Hal ini dioperasionalkan dalam bentuk tujuan instruksional atau tujuan pembelajaran ( umum maupun khusus), yang harus dpat diukur sehingga perubahan perilaku siswa dapat terlihat sebagai akibat dari proses pembelajaran (Watson). Hal ini merupakan bentuk penerapan konsep “observable behavior” (Watson). Perbedaan antara hasil belajar yang dicapai siswa dengan tujuan yang telah ditetapkan menunjukkan tingkat keberhasilan suatu proses pembelajaran.

PERKEMBANGAN TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK

A. TEORI SYSTEMATIC BEHAVIOR – CLARK HULL

Clark L. Hull (1884- 1952) sangat mengagumi Teori Refleks Terkondisi dari Pavlov. Teori Hull dikenal sangat “behavioristic” dan mekanistik. Konsep utama dari Hull adalah kebiasaan, yang disimpulkan dari berbagai penelitian tentang kebiasaan dan respon yang dilakukan Hull melalui percobaan terhadap binatang.

Pada dasarnya dalam teorinya , Hull menyatakan bahwa interaksi antara stimulus dan repons tidaklah sederhana sebagaimana adanya. Menurut Hull , ada proses lain dalam diri seseorang atau organism e yang mempengaruhi interaksi antara stimulus dan respons. Proses tersebut disebut oleh Hull sebagai variable “intervening” (yang berpengaruh)

Posisi “intervening variable” dalam mempengaruhi terjadinya respons digambarkan Hull sebagai berikut :

Variable input intervening variable out put

Variable

1.

Haus

Kekurangan air 1. Jumlah air yang diminum

2. Makan kue asin 2. Upaya mencari air

Kekeringan jumlah yang akan dibayar untuk

memperoleh air

gambar, posisi intervening variable

Hull memberikan contoh rasa haus sebagai salah satu “intervening variable”. Situasinya adalah binatang yang diberikan makanan yang asin, atau tdak diberi minum dalam waktu yang lama. (input variable). Untuk mengatasi rasa haus, binatang akan melakukan bermacam-macam aksi, sperti mengais. Mencari-cari air, dll.

Menurut Hull proses belajar merupakan upaya menumbuhkan kebiasaan dengan serangkaian percobaan. Untuk dapat memperoleh kebiasaan diperlukan adanya penguatan dalam proses percobaan. Namun, Hull juga mengatakan bahwa penguatan bukan satu-satunya factor yang menentukan dalam pengembangan kebiasaan, karena pengembangan kebiasaan lebih utama dipengaruhi oleh banyaknya percobaan yang dilakukan. Disamping itu, proses belajar juga dipengaruhi oleh berbagai factor lain (non-learning factors) yang berinteraksi langsung terhadap reaksi. Potensial yang timbul.

B. TEORI CONTIGUITY –EDWIN R. GUTHRIE

Teori contiguity dari Edwin. R Guthrie (1886-1959) dikenal juga dengan Contiguous Conditioning. Teori berangkat dari dua teori yatu Thorndike dan Pavlov dan juga dipengaruhi Watson.

Dalil Guthrie yang pertama tentang proses belajar adalah kombinasi stimulus yang diikuti dengan suatu gerakan, pada saat pengulangan berikutnya cenderung diikuti lagi oleh gerakan tersebut. Dalil kedua menyatakan bahwa pola stimulus mempunyai korelasi atau keterkaitan yang tinggi dengan repon yang ditimbulkannya pertama kali. Dalil-dalil tersebut menjadi landasan bagi prinsip kemutakhiran (recency principle), yang menyatakan bahwa jika belajar terjadi dalam suatu proses coba-coba maka proses yang berakhir terjadi akan muncul (terulang) lagi seandainya kombinasi stimulus yang sama dihadirkan kembali.

Berdasarkan teori contiguity, setiap individu mempunyai kapasitas belajar yang berbeda. Dari hasil penelitiannya bahwa hasil latihan kan mengakomodasikan ataupun menghilangkan respon-respon tertentu sehingga atas kombinasi stimulus yang muncul dapat menghasilkan suatu respon yang menyeluruh sebagaimana yang diharapkan – yang dapat disebut sebagai suatu kinerja yang berhasil. Guthrie juga menyatakan motivasi mempengaruhi belajar secara tidak langsung , yang terlihat melalui penyebab atau alas an individu melakukan sesuatu (merespons )

Satu hal yang menjadi kritik terhadap teori Guthrie adalah bahwa ia mencoba memberikan jawaban yang relative pasti terhadap segala permasalahan dalam belajar , tanpa ada perubahan selama hampir lima puluh tahun. Dengan kata lain teori Guthrie merupakan teori klasik yang tidak berkembang. Walaupun demikian, harus diakuibahwa teori Guthrie memiliki kemampuan untuk menjelaskan beragam fenomena belajar secara luas.

C. TEORI OPERANT CONDITIONING –SKINNER

Menurut Skinner, penjelasan Pavlov atas hubungan antara stimulus dan repons yang menghasilkan perubahan tingkah laku, merupakan penjelasan yang tidak lengkap. Skinner menjelaskan bahwa teori Pavlov hanya berlaku bagi interaksi antara stimulus dan respons yang sederhana saja.

Menurut Skinner, kunci untuk memahami perilaku individu terletak pada pemahaman kita terhadap hubungan antara stimulus satu dengan stimulus yang lain , respons yang dimunculkan , dan juga berbagai konseuensi yang diakibatkan oleh respons tersebut.

Sebagai penganut aliran perilaku, Skinner setuju dengan pendapat Watson yang mengatakan bahwa belajar merupakan proses perubahan perilaku. Ada 6 asumsi dasar teori Operant Conditioning , yaitu :

1. Hasil belajar merupakan perilaku yang dapat diamati

2. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar secara fungsional berhubungan dengan perubahan situasi dalam lingkungan atau suatu kondisi

3. Hubungan antara perilaku dan lingkungan dapat ditentukan hanya jika elemen-elemen perilaku dan kondisi percobaan diukur secara fisik dan diamati perubahannya dalam situasi yang terkontrol ketat

4. Data yang dihasilkan oleh percobaan terhadap perilaku merupakan satu-satunya data yang dapat digunakan dalam mengjkaji alas an munculnya suatu perilaku.

5. Sumber data yang paling tepat adalh dari masing-masing individu.

6. Dinamika interaksi antara individu dengan lingkungannya bersifat relative sama untuk semua jenis makhluk hidup.

Komponen proses belajar menurut Skinner terdiri dari stimulus yang diskriminatif (discriminative stimulus) dan penguatan (positif dan negative serta hukuman) untuk menghasilkan respons ( perubahan tingkah laku). Stimulus yang diskriminatif menurut Skinner merupakan stimulus yang selalu hadir untuk pemuncunamalan suatu respons.

Jika dalam teori Thorndike dikenal konsep reward maka dalam teori Skinner digunakan istilah penguatan (reinforcement) yang berarti segala konsekuensi yang mengikuti pemunculan suatu perilaku.

Setiap peguatan yang memperkuat pemunculan respons yang benar disebut penguatan positif, menurut Skinner. Penggunaan penguatan negative seringakali menghasilkan dampak pengiring berupa emosi yang dikenal dengan anxiety (kecemasan) atau takut.

Penguatan positif merupakan stimulus yang merancang pemunculan respons yang benar , sedangkan penguatan negative memperkuat pemunculan respons yang benar melalui penghilangannya. Skinner menekankan behwa hukuman dapat menghasilkan tiga dampak yang tidak diharappkan , yaitu hukuman hanya bersifat sementara dalam menghilangkan respons yang tidak diinginkan, hukuman dapat menimbulkan perasaan yng tidak mengenakan, hukuman dapat meningkatkan pemunculan perilaku yang dianggap mengurangi hadirnya stimulus yang tidak menyenangkan. Secara umum hukuman tidak dapat mengahasilkan perilaku yang positif. Oleh sebab itu, Skinner lebih menganjurkan penggunaan penguatan daripada hukuman jika ingin memperoleh respons yang benar.

Proses “shaping” atau pembentukan yang dilakukan secara bertahap akan menghasilkan penguasaaan terhadap perilaku yang kompleks melalui perancangan (manipulasi) stimulus yang diskriminatif dan penguatan. Menurut Skinner proses “shaping” dapat menghasilkan perilaku yang kompleks yang tidak memilki kemungkinan untuk diperoleh secara alamiah atau dengan sendirinya. “Shaping” yang berkelanjutan yang dilakukan untuk memperoleh perilkau yang kompleks disebut “program” oleh Skinner.

Kesimpulan menurut Skinner setelah melakukan berbagai penelitian adalah bahwa : 1) setiap langkah dalam proses belajar perlu dibuatkan pendek-pendek, berdasarkan tingkah laku yang pernah dipelajari sebelumnya, 2) untuk setiap langkah yang pendek tersebut disediakan penguatan yang dikontrol dengan hati-hati , 3) penguatan diberikan harus sesegera mungkin setelah respons yang dimunculkan , 4) stimulus diskriminatif perlu dirancang sedemikian rupa agar dapat diperoleh perampatan stimulus dan peningkatan hasil belajar. Konsep pembelajaran terprogram implicit adalah konsep kontrol oleh Skinner diupayakan agar berada ditangan anak yang belajar. Oleh karena itu, bagi Skinner , konsep-attribution dan self-awaeness (pengenalan diri sendiri – untuk kemudian dapat melakukan control atas program pembelajaran) menjadi sangat penting.

Teori Operant Conditioning dari Skinner percaya bahwa setiap individu harus diidentifikasi karakteristik maupun perilaku awalnya untuk suatu proses shaping. Skinner menyatakan bahwa perilaku dapat dibentuk (dan dapat dihilangkan) sehingga hampir semua orang yang mendapat latihan yang layak akan dapat memiliki perilaku yang diinginkan . disamping itu, teori Skinner percaya bahwa pengkondisian suatu respons sangat tergantung kepada penguatan yang dilakukan berulang-ulang secara berkesinambungan.

Dalam hal motivasi Skinner percaya akan peran penguatan yang memantapkan pemunculan suatu respons yang diharapkan dan juga peran hukuman yang secara umum dapat menghilangkan pemunculan respons yang tidak diharapkan. Skinner juga mengemukakan bahwa manusia dapat diajar untuk “berpikir” atau “menjadi kreatif” melalui metode pemecahan masalah yang melibatkan proses identifikasi masalah secara repat (labeling), dan proses mengaktifkan strategi (rule and or sequence) untuk memanipulasi variable dalam masalah tersebut sehingga diperoleh pemecahan masalahnya. Teori Operant Conditioning dari Skinner juga percaya akan proses perampatan hasil belajar. Dengan menggunakan istilah induksi Skinner menjelaskan bahwa perampatan terjadi berlandaskan pda proses induksi terhadp stimus yang tderajat kompleksitasnya dan karakteristiknya mempunyai kesamaan dangan stimulus diskriminatif yang sudah dipelajari.

D. PENERAPAN TEORI HULL, GUTHRIE, DAN SKINNER DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Berikut ini contoh penerapan teori Hull, Guthrie dan Skinner dalam proses pembelajaran Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup di Sekolah Dasar.

Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup

Waktu Pertemuan : 30 menit

Stimulus (Hull, Guthrie dan Skinner)

A. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Setelah selesai belajar , siswa dpat menjelaskan tentang kebutuhan hidup manusia dan hubungannya dengan lingkungan.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Setelah mengikuti pelajaran ini siswa dapat menguraikan tentang kebutuhan hidup manusia dan lingkungannya.

Materi yang dipilah-pilih (Skinner)

B. POKOK BAHASAN

Manusia dan lingkungan hidup

Stimulus Diskriminatif (SKINNER)

Intervening Variable (Hull)

Reinforcement ( Guthrie)

Transfer of learning (Thorndike)

TAHAP KEGIATAN

Pendahuluan

Pada tahap ini guru mula-mula menjelaskan cakupan materi tentang manusia dan lingkungan hidup. Di awal pembukaan guru menjelaskan hubungan manusia denga lingkungan hidup dan cara pemenuhan kebutuhan hidupnya. Untuk memudahka pemahaman ii perlu juga dimasukkan contoh-contoh tentang manusia dan lingkungan hidup yang disesuaikan dengan kondisi, misalnya masyarakat pedesaan atau petani, dia akan mulai memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bercocok tanam,kemudian merawatnya dengan memberikan pupuk dan menjaga dari serangan hama. Kegiatan bercocok tanam ini terus berlanjut sampai menjelang musim panen berikutnya. Apabila hsil panen berlimpah atau berhasil dengan baik sebagian dijual. Dan hasil penjualannya bias ditabung atau dibelikan sesuatu yang diinginkan. Sedangkan masyarakat diperkotaan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara bekerja dikantor ,industry yang membuat berbagai macam kebutuhan manusia.

Pemberian contoh ini bertujuan mengingatkan kembali kepada siswa bahwa lingkungan hidup satu daerah dengan daerah lainnya tidak selalu sama. Oleh sebab itu, manusia terhadp lingkungannya selalu bergantung pada kepada lingkungan dan akan dipengaruhi oleh lingkungan itu sendiri,misalnya masyarakat pedesaan akan bercocok tanam karena lingkungan hidupnya mendukung unuk melakukan cocok tanam . begitu juga dengan masyarakat perkotaan aka bekerja di perkantoran ,industri karena lingkungan hidupnya memungkinkan untuk bekerja di tempat tersebut.

Dari penjelasan tersebut guru dapat mengembangkan lagi melalui pertanyaan-pertanyaan kepada siswa untuk mencoba mengemukakan pengetahuannya tentang manusia dan lingkungan hidup. Berdasarkan contoh-contoh sebelumnya.

Setiap jawaban siswa akan dilemparkan kembali kepada siswa lainnya untuk ditanggapi apakah pendapatnya sama tentang permasalahan yang sedang dibahas . hal ii dilakukan secara terus menerus dan berkeinambungan , misalnya setelah selesai membahas tentang kebutuhan masyarakat pedesaan dilanjutkan dengan pembahasan berikutnya dengan pembahasan berikutnya yang tidak kalah menarik dengan pembahasan sebelumnya.

Penutupan

Pada akhir pelajaran siswa diberikan tugas untuk membuat tulisan atau cerita tentang lingkungan hidup yangdirasakan atau dilihat sehari-hari. Misalnya, seorang siswa pedesaan mengapa disekitarnya ada peternakan sapi, ayam,kambing, ikan dan sebagainya. Atau siswa yang kebetulan ada diperkotaan yang didekat rumahnya ada bengkel atau perkantoran,industry dan sebagainya.

Agar siswa itu tahu apa sebenarnya yang terjadi di lingkungan hidupnya perlu juga dilakukan pengenalan langsung terhadap lingkungan itu sendiri untuk mngunjunginya sehingga siswa dapat melihat, merasakan, ataupun mengetahui proses terjadinya suatu produk. Misalnya ke lokasi perkebunan, perikanan, perkantoran ataupun industry.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Teori belajar behavioristik menjelaskan bahwa belajar merupakan perubahan perilaku, khususnya perubahan kapasitas siswa untuk berperilaku (yang baru) sebagai hasil belajar. Bukan hasil dari proses pematangan (pendewasaan) semata. Menurut teori belajar behavioristik , perubahan perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang akan memberikan beragam pengalaman kepada seseorang.

Teori belajar behavioristik sangat menekankan pada hasil belajar (outcome), yaitu perubahan tingkah laku yang dapat dilihat dan tidak begitu memperhatikan apa yang terjadi didalam otak manusia karena hal tersebut tidak dapat dilihat.

Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variable atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respons. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon.

DAFTAR PUSTAKA

Bower. G. H. & Hilgard, E.R (1981). Theories of Learning. Englewood Cliffs, N. J. :

Prentice Hall

Bell-Gredler , M.E. (1986) .Learning in instruction. Theory into Practice. New York :

Maclimilan Publishing

Irawan,P. & Suciati. (1998) . Teori Belajar dan Motivasi . Buku 1a Program Pengembangan

Keterampilan Dasar Teknik Instruksional untuk Dosen Muda. Jakarta : Dirjen Dikti

Soekamto, T. (1998). Teori Belajar . Buku 1a Program Pengembangan Keterampilan Dasar

Teknik Instruksional untuk Dosen Muda. Jakarta : Dirjen Dikti

Jumat, 19 Oktober 2012

Bakteri dan Alga

1. BAKTERI

Bakteri merupakan organisme yang paling banyak jumlahnya dan lebih tersebar luas dibandingkan m ahluk hidup yang lain .
Bakteri memiliki ratusan ribu spesies yang hidup di darat hingga lautan dan pada tempat-tempat yang ekstrim.
Bakteri ada yang menguntungkan tetapi ada pula yang merugikan. Bakteri memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan mahluk hidup yang lain. Bakteri adalah organisme uniselluler dan prokariot serta umumnya tidak memiliki klorofil dan berukuran renik (mikroskopis).

A. Sejarah

Bakteri pertama ditemukan oleh Anthony van Leeuwenhoek pada 1674 dengan menggunakan mikroskop buatannya sendiri. Istilah bacterium diperkenalkan di kemudian hari oleh Ehrenberg pada tahun 1828, diambil dari kata Yunani βακτηριον yang memiliki arti "small stick".

  1. Ciri-ciri Bakteri

Bakteri memiliki ciri-ciri yang membedakannnya dengan mahluk hidup lain yaitu:
1. Organisme multiselluler
2. Prokariot (tidak memiliki membran inti sel )
3. Umumnya tidak memiliki klorofil
4. Memiliki ukuran tubuh yang bervariasi antara 0,12 s/d ratusan mikron umumnya memiliki ukuran rata-rata 1 s/d 5 mikron.
5. Memiliki bentuk tubuh yang beraneka ragam
6. Hidup bebas atau parasit
7. Yang hidup di lingkungan ekstrim seperti pada mata air panas,kawah atau gambut dinding selnya tidak mengandung peptidoglikan
8. Yang hidupnya kosmopolit diberbagai lingkungan dinding selnya mengandung peptidoglikan.

C. Struktur Bakteri

Struktur bakteri terbagi menjadi dua yaitu:
1. Struktur dasar (dimiliki oleh hampir semua jenis bakteri)
Meliputi: dinding sel, membran plasma, sitoplasma, ribosom, DNA, dan granula penyimpanan
2. Struktur tambahan (dimiliki oleh jenis bakteri tertentu)
Meliputi kapsul, flagelum, pilus, fimbria, klorosom, Vakuola gas dan endospora.

Struktur dasar sel bakteri

clip_image001

struktur-bakteri1

Struktur dasar bakteri :

1. Dinding sel tersusun dari peptidoglikan yaitu gabungan protein dan polisakarida (ketebalan peptidoglikan membagi bakteri menjadi bakteri gram positif bila peptidoglikannya tebal dan bakteri gram negatif bila peptidoglikannya tipis).

2. Membran plasma adalah membran yang menyelubungi sitoplasma tersusun atas lapisan fosfolipid dan protein.

3. Sitoplasma adalah cairan sel.

4. Ribosom adalah organel yang tersebar dalam sitoplasma, tersusun atas protein dan RNA.

5. Granula penyimpanan, karena bakteri menyimpan cadangan makanan yang dibutuhkan.

clip_image002

Granula.

Struktur tambahan bakteri :

1. Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu, bila
lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air.

2. Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel.

3. Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel, pilus mirip dengan flagelum tetapi lebih pendek, kaku dan berdiameter lebih kecil dan tersusun dari protein dan hanya terdapat pada bakteri gram negatif. Fimbria adalah struktur sejenis pilus tetapi lebih pendek daripada pilus.

4. Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis. Klorosom hanya terdapat pada bakteri yang melakukan fotosintesis.

5. Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis.

6. Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. Endospora mengandung sedikit sitoplasma, materi genetik, dan ribosom. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan, radiasi cahaya, suhu tinggi dan zat kimia. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru.

D. Bentuk Bakteri

Bentuk dasar bakteri terdiri atas bentuk bulat (kokus), batang (basil),dan spiral (spirilia) serta terdapat bentuk antara kokus dan basil yang disebut kokobasil.

Berbagai macam bentuk bakteri :

1. Bakteri Kokus (Coccus) :

clip_image003

kokus

a. Mikrococcus, yaitu berupa sel bakteri kokus tunggal
b. Diplococcus, yaitu dua sel bakteri kokus berdempetan
c. Tetracoccus,yaitu empat sel bakteri kokus berdempetan berbentuk segi empat.
d. Sarcina, yaitu delapan sel bakteri kokus berdempetan membentuk kubus
e. Streptococcus, yaitu lebih dari empat sel bakteri kokus berdempetan membentuk rantai.
f. Staphylococcus,yaitu lebih dari empat sel bakteri kokus berdempetan seperti buah anggur atau bergerombol.

2. Bakteri Basil (Bacillus) :

clip_image004

basil

a. Monobacillus, yaitu berupa sel bakteri basil tunggal

b. Diplobacillus, yaitu berupa dua sel bakteri basil berdempetan

c. Streptobacillus, yaitu beberapa sel bakteri basil berdempetan membentuk rantai

3. Bakteri Spirilia (Spirilum) :

clip_image005

spirilia

a. Spiral yaitu bentuk sel bergelombang

b. Spiroseta yaitu bentuk sel seperti sekrup

c. Vibrio yaitu bentuk sel seperti tanda baca koma

E. Alat Gerak Bakteri

clip_image007

clip_image008

Gambar alat gerak bakteri: A-Monotrik; B-Lofotrik; C-Amfitrik; D-Peritrik;

Banyak spesies bakteri yang bergerak menggunakan flagel. Hampir semua bakteri yang berbentuk lengkung dan sebagian yang berbentuk batang ditemukan adanya flagel. Sedangkan bakteri kokus jarang sekali memiliki flagel. Ukuran flagel bakteri sangat kecil, tebalnya 0,02 – 0,1 mikro, dan panjangnya melebihi panjang sel bakteri. Berdasarkan tempat dan jumlah flagel yang dimiliki, bakteri dibagi menjadi lima golongan, yaitu:

  • Atrik, tidak mempunyai flagel.
  • Monotrik, mempunyai satu flagel pada salah satu ujungnya.
  • Lofotrik, mempunyai sejumlah flagel pada salah satu ujungnya.
  • Amfitrik, mempunyai satu flagel pada kedua ujungnya.
  • Peritrik, mempunyai flagel pada seluruh permukaan tubuhnya.

F. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Bakteri

Pertumbuhan pada bakteri mempunyai arti perbanyakan sel dan peningkatan ukuran populasi.
Faktor–faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri atau kondisi untuk pertumbuhan optimum adalah :

1. Suhu
2. Derajat keasaman atau pH
3. Konsentrasi garam
4. Sumber nutrisi
5. Zat-zat sisa metabolisme
6. Zat kimia

Hal tersebut diatas bervariasi menurut spesies bakterinya.

G. Cara Perkembangbiakan bakteri
Bakteri umumnya melakukan reproduksi atau berkembang biak secara aseksual (vegetatif = tak kawin) dengan membelah diri. Pembelahan sel pada bakteri adalah pembelahan biner yaitu setiap sel membelah menjadi dua.

Reproduksi bakteri secara seksual yaitu dengan pertukaran materi genetik dengan bakteri lainnya.
Pertukaran materi genetik disebut rekombinasi genetik atau rekombinasi DNA.

Rekombinasi genetik dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu:

1. Transformasi adalah pemindahan sedikit materi genetik, bahkan satu gen saja dari satu sel bakteri ke sel bakteri yang lainnya.

clip_image009

transformasi

2. Transduksi adalah pemindahan materi genetik satu sel bakteri ke sel bakteri lainnnya dengan perantaraan organisme yang lain yaitu bakteriofage (virus bakteri).

clip_image010

Transduksi

3. Konjugasi adalah pemindahan materi genetik berupa plasmid secara langsung melalui kontak sel dengan membentuk struktur seperti jembatan diantara dua sel bakteri yang berdekatan. Umumnya terjadi pada bakteri gram negatif.

clip_image011

Konjugasi

H. Peranan Bakteri

1. Bakteri menguntungkan

a. Bakteri pengurai

Bakteri saprofit menguraikan tumbuhan atau hewan yang mati, serta sisa-sisa atau kotoran organisme. Bakteri tersebut menguraikan protein, karbohidrat dan senyawa organik lain menjadi CO2, gas amoniak, dan senyawa-senyawa lain yang lebih sederhana. Oleh karena itu keberadaan bakteri ini sangat berperan dalam mineralisasi di alam dan dengan cara ini bakteri membersihkan dunia dari sampah-sampah organik.

b. Bakteri nitrifikasi

Bakteri nitrifikasi adalah bakteri-bakteri tertentu yang mampu menyusun senyawa nitrat dari amoniak yang berlangsung secara aerob di dalam tanah. Nitrifikasi terdiri atas dua tahap yaitu:

  • Oksidasi amoniak menjadi nitrit oleh bakteri nitrit. Proses ini dinamakan nitritasi.

clip_image013

clip_image008[1]

Reaksi nitritasi

  • Oksidasi senyawa nitrit menjadi nitrat oleh bakteri nitrat. Prosesnya dinamakan nitratasi.

clip_image015

clip_image008[2]

Reaksi nitratasi

Dalam bidang pertanian, nitrifikasi sangat menguntungkan karena menghasilkan senyawa yang diperlukan oleh tanaman yaitu nitrat. Tetapi sebaliknya di dalam air yang disediakan untuk sumber air minum, nitrat yang berlebihan tidak baik karena akan menyebabkan pertumbuhan ganggang di permukaan air menjadi berlimpah.

c. Bakteri nitrogen

Bakteri nitrogen adalah bakteri yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan mengubahnya menjadi suatu senyawa yang dapat diserap oleh tumbuhan. Karena kemampuannya mengikat nitrogen di udara, bakteri-bakteri tersebut berpengaruh terhadap nilai ekonomi tanah pertanian. Kelompok bakteri ini ada yang hidup bebas maupun simbiosis. Bakteri nitrogen yang hidup bebas yaitu Azotobacter chroococcum, Clostridium pasteurianum, dan Rhodospirillum rubrum. Bakteri nitrogen yang hidup bersimbiosis dengan tanaman polong-polongan yaitu Rhizobium leguminosarum, yang hidup dalam akar membentuk nodul atau bintil-bintil akar. Tumbuhan yang bersimbiosis dengan Rhizobium banyak digunakan sebagai pupuk hijau seperti Crotalaria, Tephrosia, dan Indigofera. Akar tanaman polong-polongan tersebut menyediakan karbohidrat dan senyawa lain bagi bakteri melalui kemampuannya mengikat nitrogen bagi akar. Jika bakteri dipisahkan dari inangnya (akar), maka tidak dapat mengikat nitrogen sama sekali atau hanya dapat mengikat nitrogen sedikit sekali. Bintil-bintil akar melepaskan senyawa nitrogen organik ke dalam tanah tempat tanaman polong hidup. Dengan demikian terjadi penambahan nitrogen yang dapat menambah kesuburan tanah.

d. Bakteri usus

Bakteri Eschereria coli hidup di kolon (usus besar) manusia, berfungsi membantu membusukkan sisa pencernaan juga menghasilkan vitamin B12, dan vitamin K yang penting dalam proses pembekuan darah. Dalam organ pencernaan berbagai hewan ternak dan kuda, bakteri anaerobik membantu mencernakan selusosa rumput menjadi zat yang lebih sederhana sehingga dapat diserap oleh dinding usus.

e. Bakteri fermentasi

Beberapa makanan hasil fermentasi dan mikroorganisme yang berperan:

No.

Nama produk atau makanan

Bahan baku

Bakteri yang berperan

1.

Yoghurt

susu

Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus

2.

Mentega

susu

Streptococcus lactis

3.

Terasi

ikan

Lactobacillus sp.

4.

Asinan buah-buahan

buah-buahan

Lactobacillus sp.

5.

Sosis

daging

Pediococcus cerevisiae

6.

Kefir

susu

Lactobacillus bulgaricus dan Srteptococcus lactis

f. Bakteri penghasil antibiotik

Antibiotik merupakan zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan mempunyai daya hambat terhadap kegiatan mikroorganisme lain. Beberapa bakteri yang menghasilkan antibiotik adalah:

2. Bakteri merugikan

a. Bakteri perusak makanan

Beberapa spesies pengurai tumbuh di dalam makanan. Mereka mengubah makanan dan mengeluarkan hasil metabolisme yang berupa toksin (racun). Racun tersebut berbahaya bagi kesehatan manusia. Contohnya:

b. Bakteri denitrifikasi

Jika oksigen dalam tanah kurang maka akan berlangsung denitrifikasi, yaitu nitrat direduksi sehingga terbentuk nitrit dan akhirnya menjadi amoniak yang tidak dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan. Contoh bakteri yang menyebabkan denitrifikasi adalah Micrococcus denitrificans dan Pseudomonas denitrificans.

c. Bakteri pathogen

Merupakan kelompok bakteri parasit yang menimbulkan penyakit pada manusia, hewan dan tumbuhan.

Bakteri penyebab penyakit pada manusia:

No.

Nama bakteri

Penyakit yang ditimbulkan

1.

Salmonella typhosa

Tifus

2.

Shigella dysenteriae

Disentri basiler

3.

Vibrio comma

Kolera

4.

Haemophilus influenza

Influensa

5.

Diplococcus pneumoniae

Pneumonia (radang paru-paru)

6.

Mycobacterium tuberculosis

TBC paru-paru

7.

Clostridium tetani

Tetanus

8.

Neiseria meningitis

Meningitis (radang selaput otak)

9.

Neiseria gonorrhoeae

Gonorrhaeae (kencing nanah)

10.

Treponema pallidum

Sifilis atau Lues atau raja singa

11.

Mycobacterium leprae

Lepra (kusta)

12.

Treponema pertenue

Puru atau patek

Bakteri penyebab penyakit pada hewan:

No.

Nama bakteri

Penyakit yang ditimbulkan

1.

Brucella abortus

Brucellosis pada sapi

2.

Streptococcus agalactia

Mastitis pada sapi (radang payudara)

3.

Bacillus anthracis

Antraks

4.

Actinomyces bovis

Bengkak rahang pada sapi

5.

Cytophaga columnaris

Penyakit pada ikan

Bakteri penyebab penyakit pada tumbuhan:

No.

Nama bakteri

Penyakit yang ditimbulkan

1.

Xanthomonas oryzae

Menyerang pucuk batang padi

2.

Xanthomonas campestris

Menyerang tanaman kubis

3.

Pseudomonas solanacaerum

Penyakit layu pada famili terung-terungan

4.

Erwinia amylovora

Penyakit bonyok pada buah-buahan

2. ALGAE
1. Taksonomi Algae

1. Linnaeus membagi Cryptogamae menjadi 4 bangsa yaitu: Filices, Musci, Algae dan Fungi.
De Jussieu membagi tumbuhan menjadi 3 golongan, Acotyledoneae, Monocotyledoneae, Dicotyledoneae.

2. Tahun 1880 diperkenalkan suatu sistem yang membagi Cryptogamae menjadi Thallophyta, Bryophyta, Pteridophyta.

3. Thallophyta yang terdiri dari dua anak kelas Algae dan Fungi dibedakan dari Bryophyta dan Pteridophyta berdasarkan pada struktur alat penghasil spora dan gamet serta perkembangan zigotnya.

4. Dipermasalahkan mengenai keabsahan (validitas) dari Thallophyta.
Algae dan Fungi mempunyai kesamaan ciri-ciri yang digunakan untuk memisahkan keduanya dari tumbuhan lain, atas dasar kesamaan ini dipertanyakan apakah fungi berasal dari algae? dalam kenyataan, tidak satu fungi pun berasal dari algae. Dengan demikian divisi Thallophyta tidak dapat dipertahankan, sehingga bukan merupakan divisi yang valid. Sebaiknya Algae dan Fungi ditempatkan dalam satu atau lebih divisi.

5. Ciri-ciri yang akan digunakan sebagai dasar untuk memberi definisi algae:

1. menurut Fritsch (1935): Algae harus holofitik yang gagal mencapai ciri deferensiasi Archegoniatae.

2. Smith (1955 ) mendasarkan pada struktur organ seksualnya.

6. Sampai permulaan abad 20 telah dikenal 4 kelas Algae, yaitu Chlorophyceae, Phaeophyceae, Rhodophyceae dan Myxophyceae (Cyanophyceae). Ahli Protozoologi menempatkan semua organisme bersel tunggal yang berkhlorofil, berflagella seta motil dalam kelas Mastigophora dari filum Protozoa. Para pakar botani mengeluarkan anggota-anggota tertentu dari deret (seri) Volvocin. Rabenhorst menempatkan seri Chlamydomonas-Volvox dalam ganggang hijau rumput dan diberi nama Chlorophyllaceae.
Xanthophyceae (Heterokontae) dipisahkan dari Chlorophyceae pada permulaan abad 20 dan Fagellatae tertentu yang berpigmen dimasukkan dalam kelas Xanthophyceae.
Berbagai macam kelompok yang semula oleh pakar Protozoologi dimasukkan dalam Mastigophora secara filogegenetik berhubungan dengan organisme yang bersifat algae sejati.

7. Sistem klasifikasi algae ada bermacam-macam. Seiring dengan majunya ilmu pengetahuan terutama dalam penelitian fisiologi, biokimia, dan penggunaan mikros- kop elektron, maka klasifikasi algae ke dalam divisinya, kini didasarkan pada:

1. pigmentasi,

2. hasil fotosintesis,

3. flagelasi,

4. sifat fisik dan kimia dinding sel,

5. ada atau tidak adanya inti sejati.


Atas dasar hal tersebut, Smith membagi algae menjadi; Divisi: Chlorophyta, Euglenophyta, Pyrrophyta, Chrysophyta, Phaeophyta, Rhodophyta dan Cyanophyta. Pyrrophyta, Chrysophyta,dan Euglenophyta termasuk Protista (Protista algae); Cyanophyta termasuk Monera.

8. Algae mempunyai bermacam-macam bentuk tubuh:

1. Bentuk uniseluler: bentuk uniseluler yang berflagela dan yang tidak berflagela.

2. Bentuk multiseluler:

1. a. koloni yang motil, b. koloni yang kokoid

2. Agregasi: bentuk palmeloid, dendroid, dan rizopoidal.

3. Bentuk filamentik: filamen sederhana, filamen bercabang, filamen heterotrikh, filamen pseudoparenkhimatik yang uniaksial dan multiaksial.

4. Bentuk sifon/pipa.

5. Pseudoparenkhimatik

9. Reproduksi

1. Vegetatif: fragmentasi, pembelahan sel, pembentukan hormogonia.

2. Aseksual: pembentukan mitospora, zoospora, aplanospora, hipnospora, stadium pamela.

3. Seksual: isogami, heterogami yang terdiri dari anisogami dan oogami, aplanogami, autogami.

10. Pergantian keturunan

1. Pergantian keturunan haplobiontik terdiri dari: pergantian keturunan yang haplontik dan diplontik.

2. Pergantian keturunan yang isomorfik dan heteromorfik.

2. Divisi: Chlorophyta, Phaeophyta, Rhodophyta, Crysophyta, Cyanophyta, Euglenaphyta

I. Divisi Chlorophyta

Terdiri dari 2 kelas : Chloropyceae dan Charophyceae

a. Ciri-ciri

1. Pigmen, khlorofil a dan b, santofil, dan b-karoten, khlorofil terdapat dalam jumlah yang banyak sehingga ganggang ini berwarna hijau rumput.

2. Hasil fotosintesis berupa amilum dan tersimpan dalam khloroplas.

3. Khloroplas berjumlah satu atau lebih; berbentuk mangkuk, bintang, lensa, bulat, pita, spiral dsb.

4. Sel berinti sejati, satu atau lebih.

5. Sel kembara mempunyai 2 atau 4 flagela sama panjang, bertipe whiplash.

6. Dinding sel mengandung selulose.

7. Bentuk talus/struktur vegetatif

1. uniseluler motil/berflagela: Chlamydomonas sp.

2. uniseluler nonmotil/kokoid: Chlorella sp.

3. koloni motil (sel-sel dalam koloni mempunyai flagela) Volvox sp

4. koloni nonmotil (kokoid ): Pediastrum sp., Hydrodictyon sp.

5. palmeloid: Tetraspora sp.

6. dendroid: Prasinocladus sp.

7. berbentuk filamen: bercabang: Cladophora sp.

8. tidak bercabang: Oedogonium sp., Spirogyra sp.

9. heterotrikh: Coleochaeta sp., Stigeoclonium sp.

10. berbentuk helaian/lembaran yang distromatik: Ulva sp.

11. lembaran yang monostromatik: Monostroma sp.

12. berbentuk silinder yang beruang di tengah: Enteromorpha

13. berbentuk sifon/spnositik: Caulerpa sp., Codium sp.

b. Perkembangbiakan

1. secara vegetatif: dengan fragmentasi talusnya

2. secara aseksual: dengan pembentukan zoospora, aplanospora, hipnospora, autospora.

3. secara seksual: isogami, Anisogami, oogami, aplanogami.

Chlorophyta dibagi menjadi 2 kelas, yaitu Chloropyceae dan Charophyceae
Menurut Smith (1955) Chlorophyceae dibagi menjadi 12 bangsa, yaitu: Volovocales, Tetrasporales, Ulothrichales, Ulvales, Schizogoniales (Prasiolales) Cladophorales, Oedogoniales, Zygnematales, Chlorococcales, Siphonales, Dasycladales dan Siphonocladales. Oleh beberapa penulis, Tetrasporales dan Volovocales sering disatukan menjadi satu bangsa, yaitu Volvocales dan Tetrasporales dianggap sebagai anak bangsa dan Volvocales. Dalam hal ini, mereka berpendapat bahwa kedua bangsa tersebut hanya mempunyai perbedaan kecil saja.

c. Tempat hidup

Sebagian besar ± 90% merupakan algae air tawar terdapat pula di tanah atau di dinding tembok yang lembab, di atas batang pohon dan dapat pula sebagai epifil (pada permukaan daun).

d. Cara hidup

Chlorophyta hidup secara autotrof. Namun ada pula yang bersimbiosis dengan organisme lain, misal dengan jamur membentuk lumut kerak.

Kelas Charophycaea

1. Tubuh merupakan talus yang tegak, beruas dan berbuku-buku dan bercabang. Cabang yang pertumbuhannya tak terbatas keluar dari buku-buku tersebut dan dari setiap buku keluar cabang yang pertumbuhannya terbatas, yaitu cabang lateral (filoid) yang letaknya melingkari buku tersebut. Tubuh ini sering diliputi oleh CaCO3.

2. Reproduksi.

1. secara seksual: dilakukan dengan oogami. Alat kelamin betina dikelilingi benang-benang steril yang letaknya melingkar hingga membentuk spiral. Alat kelamin jantan, terdiri dari satu sel, masing-masing anteridium disatukan dalam filamen yang uniseriate dan dibungkus oleh selubung yang terdiri dari 8 sel.

2. secara vegetatif: dengan membentuk bintang-bintang amilum dan bulbus.

Dengan melihat struktur alat kelamin dan adanya stadium protenema dalam perkembangan zigot, struktur vegetatif dari tubuhnya, maka beberapa ahli mengatakan bahwa kedudukan Chara berada antara Thallophyta dan Bryophyta. Jenis-jenis yang masih hidup adalah Chara spp dan Nitella spp kesemuanya hidup di air tawar.

II. Divisi Phaeophyta
Hanya terdiri dari satu kelas : Phaeophyceae

a. Ciri-ciri

1. Tubuh selalu berupa talus yang multiseluler yang berbentuk filamen, lembaran atau menyerupai semak/pohon yang dapat mencapai beberapa puluh meter, terutama jenis-jenis yang hidup di lautan daerah beriklim dingin.

2. Set vegetatif mengandung khloroplast berbentuk bulat, bulat panjang, seperti pita; mengandung khlorofil a dan khlorofil c serta beberapa santofil misalnya fukosantin. Cadangan makanan berupa laminarin dan manitol. Dinding sel mengandung selulose dan asam alginat.

b. Reproduksi

Sel reproduksi yang motil baik zoospora ataupun zoogamet berflagela 2 buah, tidak sama panjang dan terletak dibagian lateral dari sel, bertipe whiplash dan tinsel. Reproduksi aseksual dilakukan dengan pembentukan zoospora atau aplanospora. Reproduksi seksual dilakukan secara isogami, anisogami atau oogami.

c. Daur hidup

Jenis-jenis dari bangsa-bangsa dalam Phaeophyceae mempunyai daur hidup dengan pergantian keturunan, kecuali jenis-jenis dari bangsa Fucales. Ada tiga tipe pergantian keturunan, yaitu: isomorfik (Dictyola sp.), heteromorfik (Laminaria sp). Dan diplontik (Sargassum sp.)

d. Tempat hidup

Sebagian besar hidup di laut hanya ada beberapa jenis saja yang hidup di air tawar.

e. Cara hidup

Bersifat autotrof. Fotosintesis terjadi dihelaian yang menyerupai daun. Gula dihasilkan ditransportasikan ketangkai yang menyerupai batang.

f. Peranan dalam kehidupan

Phaeophyta yang terbesar, kelp, dimanfaatkan dalam berbagai industri makanan maupun farmasi. Algin ( asam alginat ) yang merupakan bagian koloid dari Phaeophyta digunakan dalam pembuatan es krim, pembuatan pil, tablet, salep, obat pembersih gigi, lotion, dan krim sehabis mencukur. Selain itu Phaeophyta juga dimanfaatkan untuk kandungan nitrogen dan kaliumnya cukup tinggi, sedangkan kandungan fosfornya rendah.

III. Divisi Rhodophyta
Hanya mempunyai satu kelas, yaitu Rhodophyceae.

a. Ciri-ciri

1. Sel mempunyai dinding yang terdiri dari selulose dan agar atau karagen.
Rhodophyceae tidak pernah menghasilkan sel-sel berflagela.

2. Pigmen
Khlorofil: terdiri dari khlorofil a dan d.
Fikobilin: fikoeritrin dan fikosianin yang sering disebut pigmen aksesoris.
- karoten
Pigmen-pigmen tersebut terdapat dalam kloroplas

3. Cadangan makanan berupa tepung flaridea dan terdapat diluar khloroplas.

4. Talus
Hampir semuanya multiseluler, hanya 2 marga saja yang uniseluler. Talus yang multiseluler berbentuk filamen silinder ataupun helaian. Pada dasarnya talus yang multiseluler, terutama yang tinggi tingkatannya terdiri dari filamen-filamen yang bercabang-cabang dan letaknya sedemikian rupa hingga membentuk talus yang pseudoparenkhimatik. Talus umumnya melekat pada substrat dengan perantaraan alat pelekat. Pada Rhodophyta yang tinggi tingkatannya ada 2 tipe talus: monoaksial dan multiaksial.

b. Reproduksi

Reproduksi secara vegetatif dilakukan dengan fragmentasi. Rhodopyceae membentuk bermacam-macam spora, karpospora (spora seksual), sporta, netral, monospora. Tetraspora, bispora, dan polispora.

Pergantian keturunan

Pada yang tinggi tingkatannya terdiri dari 2 tipe, yaitu bifasik dan trifasik.

1. Bifasik: inti zigot langsung mengadakan meiosis; hingga menghasilkan karposporafit haploid yang tumbuh pada gametofitnya atau inti zigot membelah mitosis hingga membentuk karposporangium yang intinya diploid inti karposporangium mengadakan meiosis dan membentuk karpospora yang haploid. Karposporofit berada pada gametofit.

2. Trifasik: inti zigot hanya membelah mitosis, membentuk karposporangium dengan karpospora yang diploid. Karposporofit terdapat pada gametofit, karpospora yang diploid tumbuh menjadi tetrasporofit yang diploid dan hidup bebas, tetrasporangium yang terbentuk intinya membelah meiosis dan menghasilkan 4 spora yang haploid (tertraspora). Tetraspora tumbuh menjadi gametofit. Gametofit dan tetrasporofit umumnya isomorfik.

c. Cara hidup

umumnya bersifat autotrof. Akan tetapi adapula yang heterotrof, yaitu yang tidak memiliki kromatofora dan biasanya parasit pada algae lain.

d. Peranan dalam kehidupan

Rhodophyta jenis tertentu dapat menghasilkan agar yang dimanfaatkan antara lain sebagai bahan makanan dan kosmetik, misalnya Eucheuma spinosum. Di beberapa negara, misal Jepang, Rhodophyta ditanam sebagai sumber makanan. Selain itu agar juga dipakai untuk mengeraskan / memadatkan media pertumbuhan bakteri.